Objek Wisata Gedung Linggarjati Dan Penjelasannya

objek wisata gedung linggarjatiObjek Wisata Gedung Linggarjati. Bagi anda yang senang dengan sejarah dan museum, coba berkunjung ke sini. Salah satu gedung bersejarah yang berada di kaki gunung Ciremai.

.Ada dua keuntungan bila anda datang melihat objek wisata Gedung Linggarjati. Yaitu menyegarkan kembali pelajaran sejarah kemerdekaan Republik Indonesia.  Karena beberapa peninggalan sejarah hingga saat ini masih dirawat dengan baik dan dipertahankan keasliannya.

Pada bulan November 1946 Gedung Perundingan Linggarjati menjadi saksi sejarah tempat dilaksanakannya perundingan Linggarjati. Linggajati. Kuningan menjadi jalan tengah untuk pelaksanaan perundingan karena Jakarta maupun di Yogyakarta (ibukota sementara RI) tidak memungkinkan untuk dilaksanakannya perundingan.

Walaupun objek wisata gedung perundingan linggarjati hanya dengan replika namun cukup membuat pengunjung merasakan suasana ketika itu. Dipimpin oleh Sutan Sjahrir sebagai perdana menteri pertama Indonesia, pihak delegasi Indonesia menempati deretan kursi di sebelah kiri. Sementara deretan kursi di sebelah kanan ditempati oleh pihak Belanda. Lord Killearn seorang diplomat Inggris diutus khusus oleh Inggris untuk Asia Tenggara yang berkedudukan di Singapura menjadi mediator.

Selama perundingan berlangsung, di Linggarjati Lord Killearn dan beberapa delegasi Belanda seperti Schermerhorn, Ivo Samkalden, P. Sanders menginap. Di Museum kamar-kamar yang ditempati oleh tokoh-tokoh perundingan dilabeli dengan baik. Di Kapal Perang Banckert Letnan Gubernur Jenderal van Mook dan anggota delegasi lainnya lagi menginap. Sedangkan di rumah Bung Sjahrir di Linggasana, desa tetangga Linggarjati, yang berjarak sekitar 20-25 menit dari museum, menjadi tempat bagi delegasi Indonesia untuk menginap.

Sejarah Singkat Tentang Objek Wisata Gedung Perundingan Linggarjati

Sejumlah foto Objek wisata gedung perundingan linggarjati dan dokumentasi mengenai perundingan ini menghiasi dinding Ruang Perundingan Linggarjati. Beberapa diantaranya adalah wartawan mancanegara yang berada di pagar tangga kediaman Bung Sjahrir di Linggasana sedang mengetik naskah berita. Foto-foto itu diperoleh dari Kedutaan Belanda.

Salah satu yang berkesan adalah foto ketua dari kedua delegasi yakni Bung Sjahrir yang menjadi delegasi untuk Indonesia dan W. Schermerhorn yang menjadi delegasi untuk Belanda yang sedang berada diruang tamu kediaman resmi Bung Sjahrir, Pegangsaan Timur No. 56. Keduanya sedang memaraf Naskah Perjanjian Linggarjati. Pada tanggal 15 November 1946 tersebut berlangsung pemarafan naskah dalam bahasa Belanda, sementara pada tanggal 18 November di Istana Negara, Jakarta menjadi tanggal pemarafan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Dan pada tanggal 25 Maret 1947 secara resmi di Istana Negara Perjanjian Linggarjati ditandatangani.

Untuk selengkapnya silahkan anda bisa berkunjung ke tempat objek sejarah ini.

Wisata Kolam Renang Cibulan Di Kuningan

wisata kolam renang cibulanObjek Wisata Kolam Renang Cibulan berada di daerah kab. Kuningan. Ini adalah merupakan salah satu objek wisata tertua di Kuningan.

Obyek wisata kolam renang cibulan ini diresmikan pada 27 Agustus 1939 oleh Bupati Kuningan. Saat itu yaitu R.A.A. Mohamand Achmad. Selain objek wisata di Cibulan juga terdapat tiga tempat rekreasi sejenisnya di Kuningan. Yakni Kolam Linggarjati di kompleks Taman Linggarjati Indah Kecamatan Cilimus. Kolam Renang Cigugur di Kecamatan Cigugur dan Kolam Darma Loka di Kecamatan Darma.

Sejarah mengatakan menyatakan bahwa ikan dewa yang ada di kolam Cibulan ini konon dahulunya adalah prajurit-prajurit yang membangkang. Atau tidak setia pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi.

Singkat cerita prajurit-prajurit pembangkang tersebut kemudian dikutuk oleh Prabu Siliwangi. Sehingga menjadi ikan dan Konon ikan-ikan dewa ini dari dulu hingga sekarang jumlahnya tidak berkurang maupun bertambah.

Versi Lain sejarah Wisata Kolam Renang Cibulan

Bagi warga di Cibulan, keberadaan ikan dewa terkait dengan kisah Ki Gede Padara yang oleh warga disebut Ki Gedeng Padara. Dia adalah Seorang petapa sakti leluhur (karuhun) desa.

Alkisah Cigugur yang terletak 3 kilometer di atas Kota Kuningan. Pada sekitar tahun 1430 bernama Dusun Padara. Kala itu warga setempat memerlukan sumber air. Ki Gede lalu bersemadi seraya menancapkan sebilah keris di sebuah kaki bukit yang masih hijau di Gunung Ciremai.

Saat itu ada suara bergemuruh seperti tanah berguguran kemudian dinamakan Cigugur. Dari bawah akar pohon kemudian keluar air. Yang selanjutnya di tampung dalam sebuah kolam dan terus ke hilir dusun. Ki Gede lalu menangkap ikan kancra bodas dari tiga sungai. Yakni Sungai Cilutung di Majalengka. Sungai Cisanggarung di Kuningan. Dan Sungai Cijolang di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah sekarang. Ikan tersebut kemudian di masukkan ke kolam Cigugur.

Waktu itu ketiga sungai berair sangat jernih karena hutan-hutan di sekitarnya masih utuh. Karena kondisi lingkungan jernih dan sama dengan air yang keluar dari bukit Cigugur ikan-ikan itu hidup dan berkembang biak..